Pendahuluan :
Polemik dan pertentangan di dunia Kristiani mengenai keselamatan , tidak pernah berhenti ! Ada yang mengajarkan bahwa keselamatan Kristiani itu kemungkinan bisa hilang dan ada yang mengajarkan bahwa keselamatan itu tidak mungkin bisa hilang . Terlepas dari berbagai sudut pandang yang ada , seandainya saya seorang yang sangat awam mengenai Kekristenan dan sama sekali belum menjadi Kristen , mendengar berita Injil yang menawarkan keselamatan yang kemungkinan bisa hilang , sudah barang tentu saya akan berpikir dua kali untuk menjadi Kristen . Paling tidak saya akan bertanya :" Buat apa saya masuk Kristen jikalau hasilnya sama saja ? " . Sebaliknya jika saya menerima berita Injil yang menjanjikan bahwa keselamatan saya adalah suatu keniscayaan yang pasti dan tidak mungkin bisa hilang , maka paling tidak saya akan merasa bahwa ada perbedaan mendasar yang belum pernah saya dengar . Orang akan tertarik jika mendengar sesuatu yang diinginkannya adalah sesuatu yang pasti ! Ini logika berpikir yang sederhana.
Saya sendiri sudah menjadi Kristen sejak lahir ! Jika kemudian pada saat ini saya mendengar bahwa keselamatan saya mungkin bisa hilang , dalam arti sesuatu yang tidak pasti , saya akan bertanya :" Jikalau begitu, buat apa selama ini saya menjadi Kristen yang benar-benar "percaya" ? Bukankah saya bisa saja mengikuti ajaran kepercayaan yang lain ?" Dengan tegas saya harus menyatakan bahwa saya tidak mau menjadi orang Kristen yang percaya pada karya penyelamatan Kristus , kalau ternyata keselamatan saya adalah sesuatu yang tidak pasti , dalam arti masih tergantung pada diri saya sendiri ! Kalau keselamatan masih tergantung pada diri saya sendiri, menurut kadar ketaatan saya pada aturan hukum yang dipersyaratkan , sampai sebatas apa saya dapat memastikan bahwa ketaatan saya sudah cukup atau belum cukup ?! Ini membingungkan saya dan membuat saya frustasi , karena secara jujur saya harus mengakui bahwa kadar ketaatan saya pastilah tidak cukup untuk membuat saya diselamatkan , sebaik apapun hidup saya , sebab yang harus saya penuhi adalah kebaikan hidup menurut standar Tuhan , bukan menurut standar manusia !
Memang kita diselamatkan bukan karena stigma "Kristen " atau menjadi anggota suatu denominasi gereja tertentu , sebab stigma Kristen dan menjadi anggota denominasi gereja tertentu , bukanlah syarat untuk memperoleh keselamatan . Sebab jikalau kita tidak memahami dan menjalani arti Kekristenan itu sendiri , sudah barang-tentu kita adalah orang-orang Kristen yang dimaksudkan dalam Matius 7 : 21 . Seperti sudah sering kita dengar , keselamatan Kristiani itu bersifat indikatif imperatif , di mana yang indikatif merupakan Inti Pesan dalam bentuk berita yaitu :" bahwa kita sudah diselamatkan oleh karya penyelamatan Kristus " ; sementara yang imperatif merupakan Muatan Pesan dalam bentuk suruhan yaitu " bahwa kita harus menjaga etika dan moral kita sebagai buah dari keselamatan itu ."
Kita harus dapat membedakan kata " telah diselamatkan " dengan "akan diselamatkan " yang terdapat dalam Perjanjian Baru . Sebab pengertian kata "telah diselamatkan " ditujukan kepada mereka yang telah percaya , sementara pengertian kata "akan diselamatkan" ditujukan pada mereka yang masih "akan percaya" ! ( bandingkan dengan kata "sudah" pada Yohanes 5 : 24 dan kata "akan" pada Roma 10 : 9 ) .Kalau demikian, kalau sebagai orang yang telah percaya kita telah diselamatkan , mengapa harus gagal ? Apakah kata "telah " pada Titus 3 : 5 itu merupakan kebohongan ?
Memang kita diselamatkan bukan karena stigma "Kristen " atau menjadi anggota suatu denominasi gereja tertentu , sebab stigma Kristen dan menjadi anggota denominasi gereja tertentu , bukanlah syarat untuk memperoleh keselamatan . Sebab jikalau kita tidak memahami dan menjalani arti Kekristenan itu sendiri , sudah barang-tentu kita adalah orang-orang Kristen yang dimaksudkan dalam Matius 7 : 21 . Seperti sudah sering kita dengar , keselamatan Kristiani itu bersifat indikatif imperatif , di mana yang indikatif merupakan Inti Pesan dalam bentuk berita yaitu :" bahwa kita sudah diselamatkan oleh karya penyelamatan Kristus " ; sementara yang imperatif merupakan Muatan Pesan dalam bentuk suruhan yaitu " bahwa kita harus menjaga etika dan moral kita sebagai buah dari keselamatan itu ."
Kita harus dapat membedakan kata " telah diselamatkan " dengan "akan diselamatkan " yang terdapat dalam Perjanjian Baru . Sebab pengertian kata "telah diselamatkan " ditujukan kepada mereka yang telah percaya , sementara pengertian kata "akan diselamatkan" ditujukan pada mereka yang masih "akan percaya" ! ( bandingkan dengan kata "sudah" pada Yohanes 5 : 24 dan kata "akan" pada Roma 10 : 9 ) .Kalau demikian, kalau sebagai orang yang telah percaya kita telah diselamatkan , mengapa harus gagal ? Apakah kata "telah " pada Titus 3 : 5 itu merupakan kebohongan ?
Pandangan Synergisme :
Kata synergisme berasal dari kata Yunani "sunergeo " yang artinya "bekerja sama " ! Tanpa bermaksud mendiskreditkan suatu denominasi gereja , pandangan synergisme mengajarkan bahwa keselamatan itu adalah hasil kerja-sama antara manusia dengan Tuhan . Dengan perkataan lain, di dalam karya penyelamatan itu , manusia mempunyai andil ! Tuhan mengerjakan bagianNya, dan manusia mengerjakan bagiannya . Tuhan sudah mengerjakan bagianNya dengan karya penyelamatan Kristus di kayu salib dan manusia harus menambahi keselamatan itu dengan ketaatan pada aturan-aturan hukum yang dipersyaratkan , sehingga dengan perpaduan kerja-sama ini , manusia beroleh keselamatan . Kedengarannya memang indah dan masuk akal , jika ditinjau dari perspektif dunia yang meritokrasi . Sangat masuk akal bahwa siapa berprestasi memperoleh promosi . Orang yang berusaha pasti mendapatkan . Jika kita berjasa kita mendapat reward . Siapa yang bekerja beroleh upah sebagai haknya . Bukankah hal seperti ini benar dan logis ?
Oleh karena cara pandang meritokrasi seperti itu , logis pulalah kalau dikatakan bahwa keselamatan bisa hilang . Tidak mungkin ada gaji kalau tidak bekerja . Tidak mungkin mendapat reward kalau tidak ada jasa . Tidak mungkin ada hasil tanpa usaha . Jadi keselamatan kita itu sangat tergantung kepada diri kita sendiri , dalam memelihara keselamatan yang kita ingin peroleh , yakni dengan cara hidup yang baik sesuai etika dan moral Kristiani . Jika tidak , keselamatan kita hilang ! Tetapi pertanyaannya , apakah kasih-karunia yang diajarkan Alkitab itu bersifat meritokrasi ataukah tidak ? Pertanyaan kedua , apakah keselamatan kita itu tergantung pada etika dan moral kita ataukah hanya semata-mata dari karya penyelamatan Kristus di kayu salib ?
"Jika demikian apa dasarnya untuk bermegah ? Tidak ada ! Berdasarkan azas apa ? Berdasarkan azas perbuatankah ? Bukan , melainkan berdasarkan azas iman ! Karena kami yakin bahwa manusia dibenarkan karena iman , bukan karena melakukan hukum Torat ." ( Roma 3 : 27 - 28 Terjemahan LAI 2002 ).
" Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman , itu bukan hasil usahamu , tetapi pemberian Allah ; itu bukan hasil pekerjaanmu , supaya tidak ada orang yang memegahkan diri ." ( Efesus 2 : 8 - 9 Terjemahan LAI 2002 )
Dari teks di atas, nampak jelas bahwa keselamatan kita tidak tergantung pada sistem meritokrasi ! Kita tidak berusaha apa-apa dan kita tidak melakukan apa-apa , selain hanya percaya bahwa keselamatan itu pemberian cuma-cuma ! Bukan hasil kita dalam bekerja , sebagaimana layaknya sistem dunia . (band. Roma 4 : 1 - 5 , cermati kalimat " dibenarkan bukan berdasarkan perbuatannya " ) Ketika Tuhan mengerjakan keselamatan kita di kayu salib , tuntas dan selesai dan sempurna ( Yohanes 19 : 30 ) , kita sama sekali tidak terlibat ! Kita sama sekali tidak membantuNya ! Bantuan apa yang kita sumbangkan pada waktu Tuhan Yesus mengerjakan karya keselamatan di kayu salib ? Apakah kita ikut dihina ? Dipukuli ? Ditempeleng ? Dipaku ? Ditombak ? Lalu mengapa ada ajaran keselamatan yang bertumpu pada kerja-sama Allah dengan manusia ( synergisme) ? Kerja-samanya di mana ? Janganlah kita mengaku-ngaku pernah bekerja sama denganNya dalam karya salib , padahal karyaNya sudah selesai tanpa melibatkan kita ! Namun pandangan sinergisme tetap menyatakan bahwa perbuatan baik mereka mempunyai andil dalam karya penyelamatan .
" Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu .....Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat , oleh karena kasihNya yang besar , yang dilimpahkanNya kepada kita , telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita , oleh anugerah kamu diselamatkan .." ( Efesus 2 : 1 , 4 dan 5 Terjemahan LAI 2002 )
"Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah , dan oleh anugerahnya telah dibenarkan dengan cuma-cuma melalui penebusan dalam Kristus Yesus ." ( Roma 3 : 23 - 24 Terjemahan LAI 2002 )
" Sebab inilah darahKu , darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa ." ( Matius 26 : 28 Terjemahan LAI 2002 )
Teks di atas memperlihatkan bahwa kita sudah mati karena pelanggaran dan dosa-dosa kita ! Semua sudah mati karena berdosa ! Oleh karenanya , barang yang mati , sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa ? Mengapa ? Karena sudah mati ! Oleh darah Yesus kita dihidupkan kembali dan diselamatkan ! Bagaimana mungkin orang mati bisa bekerja sama menyelamatkan dirinya ? Sekarang kita telah hidup , karena sudah diselamatkan , dan jangan diputar-balik , seakan-akan saudara dalam keadaan hidup dan tidak mati , sehingga mampu untuk menyelamatkan diri saudara . Kita sudah mati , dan darah Yesus yang membuat kita hidup dan selamat . Bagaimana mungkin ada kerja-sama antara Allah dengan orang mati ?! Setelah kita hidup dan melakukan kebaikan-kebaikan , kebaikan-kebaikan itu bukanlah andil dalam keselamatan kita , sebab sebelum kita melakukan kebaikan-kebaikan tersebut , terlebih dahulu kita sudah diselamatkan ! Urutan yang benar adalah : Kita mati , lalu dihidupkan , lalu berbuat baik ! Jangan dibalik menjadi :" Kita mati , lalu berbuat baik , lalu hidup ! " Ini salah ! Karena orang mati , tidak bisa berbuat baik !
Kriteria "mati " dalam teks Alkitab itu tidak dapat kita nilai dari cara pandang dunia ! Sebab jika dilihat dari cara pandang dunia , semua orang yang masih hidup sanggup berbuat baik , bahkan orang yang tidak percaya Yesuspun sanggup berbuat baik ! Kriteria :"mati " dalam Alkitab itu adalah dipandang dari sisi kebenaran Allah , di mana seluruh manusia sudah dianggap mati karena tidak mampu lagi menjadi baik menurut standar Allah , bukan menurut standar manusia . Jadi etika dan moral kita tidak berkontribusi pada keselamatan kita, sebab etika dan moral kita adalah etika dan moral yang standarnya tidak cukup untuk menyelamatkan kita ! ( band. Ulangan 27 : 26 ; Galatia 3 : 10 - 11 dan Roma 3 : 10 - 12 ) . Jadi ketika Roma 3 : 10 - 12 mengatakan tidak ada yang benar dan tidak ada yang baik , bukan berarti tidak ada manusia hidup yang berbuat baik , melainkan tidak ada yang perbuatan baiknya sesuai standar Allah . Contohnya, orang percaya di zaman Torat pun berbuat baik , namun kebaikan mereka tidak memenuhi standar Allah . Kalau mencukupi , mengapa harus ada Hari Raya Pendamaian , untuk penghapusan dosa mereka selama satu tahun ? ( Imamat 16 : 34 ) .
Itulah sebabnya pandangan synergisme menjadi tidak Alkitabiah ! Sebab jikalau keselamatan kita adalah hasil dari etika dan moral kita , apapun alasannya , maka logislah kalau dikatakan bahwa keselamatan bisa hilang ! Bahkan dengan tegas saya katakan bahwa kalau kita berpegang pada etika dan moral kita , sudah pasti kita tidak selamat ! Mengapa ? Sejauh mana kita bisa menjamin bahwa usaha kita itu sudah cukup untuk seharga dengan nilai keselamatan ? Dan siapa yang menjamin ? Sekalipun , synergisme mengajarkan bahwa kita diberi kemampuan oleh Roh Kudus untuk melakukan kebaikan , namun bukan berarti diberi kemampuan untuk menyelamatkan diri sendiri . Sebab jikalau demikian , hilanglah anugerah , hilanglah kasih-karunia ! Apakah Roh Kudus harus membohongi diriNya sendiri , dengan adanya teks di bawah ini ?
" Tis ou me phobete , kurie , kai doksasei to onoma sou , hoti monos hosios ...( Apokalupsie Ionnaou 15 : 4 , naskah Yunani Modern Text )
" Who shall are not fear You, O my Lord ? For you alone are holy . ( Relevation 15 : 4 Terjemahan NKJV 1982 )
" Siapakah yang tidak takut ya Tuhan, dan tidak memuliakan namaMu ? Sebab Engkau saja yang kudus . ( Wahyu 15 : 4 Terjemahan LAI 2002 )
Kebaikan apa yang bisa kita kerjakan sehingga cukup untuk menyelamatkan diri kita ? Bukankah sudah terbukti bahwa kebaikan manusia tidak mencapai standar Tuhan , sehingga Ia harus datang ke dunia guna menggenapi apa yang tidak bisa kita genapi ? Apakah Tuhan Yesus datang ke dunia ini tidak berdasarkan bahwa kita sudah mati dalam pelanggaran-pelanggaran kita yang tidak sanggup memenuhi secara utuh aturan hukumNya ? Kalau kita sanggup mengapa Dia harus datang ? Kalau kita sanggup dan merasa bisa kudus dan sempurna seperti Dia , mengapa teks di atas berkata :" hoti monos hosios = for you alone are holy = sebab Engkau saja yang kudus ?" Bukankah itu berarti tidak ada yang kudus selain Allah ? Apakah kalimat "hoti monos hosios " itu dapat diganti bahwa manusia juga bisa kudus ? Bukankah kita cuma dikuduskan (hegiasmenoi ) dan bukan kudus (hosios) ? Urutannya adalah : " kita mati - dihidupkan - dikuduskan " dan jangan dibalik menjadi " kita mati - menguduskan diri - dihidupkan " . Ini salah lagi !Jadi kesimpulannya, saya setuju dengan mereka yang percaya bahwa keselamatan bisa hilang , sepanjang keselamatan itu memang hasil kerja-sama Allah dengan manusia . Tetapi uraian di atas sudah menegaskan tidak ada kerja-sama antara Allah dengan manusia dalam hal keselamatan .
Kalau saudara belajar di Universitas sampai mencapai gelar dan kemudian saudara bekerja di suatu instansi pemerintah , mungkin saja bisa terjadi kerja-sama antara saudara dengan Tuhan . Bagian saudara adalah belajar dan berusaha dengan rajin membaca dan sebagainya , sementara bagian Tuhan membantu saudara dalam memperoleh keberhasilan ! Barangkali kalau yang seperti ini , bisa masuk di akal ! Karena yang kita bicarakan adalah dunia dengan sistem meritokrasinya . Namun bicara soal keselamatan , kita berbicara mengenai karya salib , dan di kayu salib , kita tidak menyumbang apa-apa dalam karya penyelamatan tersebut .Jadi kita tidak dapat memberlakukan sistem meritokrasi pada karya penyelamatan Kristus .
Kalau saudara belajar di Universitas sampai mencapai gelar dan kemudian saudara bekerja di suatu instansi pemerintah , mungkin saja bisa terjadi kerja-sama antara saudara dengan Tuhan . Bagian saudara adalah belajar dan berusaha dengan rajin membaca dan sebagainya , sementara bagian Tuhan membantu saudara dalam memperoleh keberhasilan ! Barangkali kalau yang seperti ini , bisa masuk di akal ! Karena yang kita bicarakan adalah dunia dengan sistem meritokrasinya . Namun bicara soal keselamatan , kita berbicara mengenai karya salib , dan di kayu salib , kita tidak menyumbang apa-apa dalam karya penyelamatan tersebut .Jadi kita tidak dapat memberlakukan sistem meritokrasi pada karya penyelamatan Kristus .
Pandangan monergisme :
Kata monergisme berasal dari akar kata Yunani monos = satu atau saja, dan ergon = pekerjaan ; dalam arti bahwa Allah bekerja sendiri tanpa kerja-sama dengan manusia dalam karya penyelamatan ! Apakah kita tidak mempercayai bahwa Allah sanggup bekerja sendiri untuk menyelamatkan kita ? Ya ! Itu terbukti di kayu salib ! Saudara dan saya tidak punya andil apa-apa di sana ! Ketika pekerjaannya sudah selesai , saudara tidak dapat menambahi pekerjaan yang sudah selesai dan sempurna ! Jikalau kita menambahi , terus terang kita menghina Tuhan Yesus, seakan-akan pekerjaanNya belum selesai dan belum sempurna ! Pertanyaan yang harus di jawab adalah : Apakah keselamatan itu merupakan kehendak Allah ataukah kehendak manusia ? Pertanyaan kedua : " Apakah karya keselamatan yang dikerjakan Yesus itu merupakan kehendak bersama dari Allah dan manusia ?"
" Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah .... dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya . " ( Yesaya 53 : 10 Terjemahan LAI 1987 )
" Dan karena kehendakNya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus ." ( Ibrani 10 : 10 Terjemahan LAI 1987 )
" Sebab inilah kehandak Bapaku , yaitu supaya setiap orang yang melihat Anak dan yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman ." ( Yohanes 6 : 40 Terjemahan LAI 1987 )
Mari kita cermati baik-baik , bahwa dari teks Alkitab di atas , nyata bahwa karya keselamatan adalah kehendak Allah yang dari dahulu sudah dirancang dan dinubuatkan bahwa melalui Kristuslah karya keselamatan akan dikerjakan . Ia sama sekali tidak pernah berunding dengan manusia mengenai bagaimana karya keselamatan itu harus dilaksanakan . Ia merencanakan sendiri dan Ia mengerjakannya sendiri . Sebab keselamatan yang dikerjakanNya itu adalah kehendakNya sendiri , bukan kehendak manusia ! Bukan berarti manusia tidak berkehendak untuk selamat , bukan ! Manusia juga berkehendak untuk selamat tetapi tidak tahu harus bagaimana ? Jadi manusia mencari sendiri keselamatan itu dengan usahanya ; ada yang bertapa menjauhi dunia , ada yang hidup sesaleh mungkin , ada yang beraskese ( bertarak birahi ) , ada yang menjaga kesucian pikirannya, perkataan dan perbuatannya , dan sebagainya , yang merupakan usaha manusia untuk bisa menyelamatkan diri . Dalam perspektif keselamatan yang dikerjakan oleh Allah , mutlak itu adalah kehendakNya sendiri, bukan kehendak manusia yang tidak tahu harus bagaimana itu .
" Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang , tetapi kepada belas kasihan Allah ." ( Roma 9 : 16 Terjemahan LAI 2002 ).
"Tetapi ketika nyata kemurahan Allah , Juruselamat kita, dan kasihNya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita , bukan karena perbuatan benar yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmatNya melalui permandian kelahiran kembali dan pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh kudus , yang sudah dilimpahkanNya kepada kita melalui Yesus Kristus, Juruselamat kita , supaya kita , sebagai orang yang dibenarkan karena anugerahnya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai pengharapan kita ." ( Titus 3 : 4 - 7 Terjemahan LAI 2002)
Kita dibenarkan oleh anugerahnya , dan bukan dibenarkan karena perbuatan kita yang baik yang sudah kita kerjakan ! Bahwa kita dibenarkan , itu adalah kehendakNya , dan tidak tergantung pada kehendak manusia atau usaha manusia . Jadi jelas tidak ada kerja-sama antara kehendak Allah dengan kehendak manusia . Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai kehendak untuk keselamatan , bukan ! Sejak dahulu kala, manusia mempunyai kehendak untuk keselamatannya, sehingga berusaha mencari jalan untuk keselamatan dirinya , namun tidak tahu harus bagaimana ? Karena itulah , Tuhan berinisiatif sendiri lewat kehendakNya untuk menyelamatkan manusia dengan caraNya sendiri , yang ternyata sangat jauh dari cara-cara yang menurut kehendak manusia . Manusia berkehendak memperoleh keselamatan itu dengan sistem meritokrasi , yakni sistem balas jasa . Sedangkan Tuhan berkehendak menyelamatkan kita dengan sistem kasih-karunia , keselamatan yang cuma-cuma ! Mengapa bertolak belakang ? Karena seluruh jasa manusia tidak cukup untuk membayar harga keselamatan yang sangat mahal itu . Sesuatu yang tidak sanggup kita beli , hanya dapat kita terima kalau sesuatu itu berupa pemberian , anugerah ! Inipun logika berpikir yang sederhana .
Oleh karena keselamatan merupakan karya dan kehendak Allah sendiri , sama-sekali tidak dicampurkan dengan usaha manusia , maka siapakah manusia yang sanggup membatalkan karya Allah tersebut ? Memang sangat logis kalau kita mengerjakan keselamatan berdasarkan kemampuan kita ( yang sebetulnya tidak mampu ) , keselamatan bisa hilang ! Bahkan menurut saya memang pasti gagal . Akan tetapi, jika yang mengerjakan adalah Tuhan , bukan diri kita sendiri , dan bukan juga hasil kerja-sama dengan kita , siapakah yang sanggup membatalkannya ? Siapakah yang sanggup merebut keselamatan itu dari tangan Tuhan ( bukan dari tangan kita ) sehingga keselamatan kita batal ?
"Domba-dombaKu mendengar suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengenal Aku dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu." ( Yohanes 10 : 27 - 28 Terjemahan LAI 2002 )
Tuhan berkehendak menyelamatkan manusia ! Berbeda dengan pandangan sinergisme di mana karya salib yang sempurna harus ditambahi atau dilengkapi dengan etika dan moral manusia , maka pada pandangan monergisme , karya salib yang sempurna direspon oleh manusia dengan iman , bahwa hanya oleh darah Yesus , manusia beroleh keselamatan , dan tidak ditambahi apa-apa lagi . Dan Yesus berjanji , seperti teks di atas , bahwa keselamatan kita adalah pasti , dan tidak ada seorangpun yang dapat merebutnya , bukan dari tangan kita , tetapi dari tanganNya ! ( perhatikan anak kalimat " pasti tidak akan binasa " pada teks di atas ) Sebab kalau keselamatan itu ada di tangan kita berdasarkan usaha kita , sudah barang-tentu tidak ada yang menjamin kelangsungannya . Akan tetapi jika keselamatan itu berada di tangan Tuhan , sudah barang tentu terjamin kelangsungannya , karena tidak ada manusia yang dapat merebut sesuatu dari tanganNya .
" Beginilah firman TUHAN , Penebusmu , yang membentuk engkau sejak dari kandungan ; Akulah TUHAN yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit , yang menghamparkan bumi - siapakah yang mendampingi Aku ?" ( Yesaya 44 : 24 Terjemahan LAI 1987 )
Teks di atas ini adalah pernyataan Allah , bahwa segala sesuatu Dia yang mengerjakan seorang diri , tanpa kita ikut membantu , termasuk keselamatan kita ! Bahwa itu adalah kehendakNya sendiri , dalam arti kehendakNya yang spesifik , yakni melalui darah Kristus .Jadi , kehendak Tuhan untuk menyelamatkan kita lewat darah Yesus itu, benar-benar bukan lahir dari usaha atau kehendak kita ! Jangankan kita yang tidak hidup di zaman Tuhan Yesus dan para rasul ; orang Yahudi yang hidup di zaman itu juga tidak memiliki pemikiran bahwa penyelamatan akan datang lewat darah Yesus . Mengapa ? Karena mereka terbelenggu oleh kehendak sendiri , dengan mencari keselamatan lewat ketaatan pada hukum Torat .
Kita lihat bahwa pandangan monergisme ini bertolak belakang dengan pandangan sinergisme ! Pandangan sinergisme sangat logis dan masuk akal jikalau dilihat dari perspektif sistem meritokrasi , di mana harus ada usaha baru ada balas jasa . Sementara itu pandangan monergisme , sangat tidak masuk akal dan tidak logis , karena kita manusia hanya menerima saja tanpa usaha , dan pemberian itu sifatnya cuma-cuma, bukan karena sebagai balas-jasa . Namun saudara harus mengerti bahwa ajaran soteria (keselamatan) Kekristenan memang tidak masuk akal karena berbeda dengan ajaran di luar Kekristenan . Akan tetapi , bahwa keselamatan Kristiani itu tidak masuk akal , telah dicatat dalam Alkitab , seperti teks di bawah ini :
" Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa , tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah . Karena ada tertulis :" Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan ." ( 1 Korintus 1 : 18 - 19 Terjemahan LAI 2002 )
Teks di atas bermakna bahwa berita keselamatan lewat karya salib Kristus itu , tidak masuk akal ! Mereka yang tidak percaya menjadi tidak mengerti dan bodoh , bukan karena mereka bodoh , melainkan karena hikmat mereka adalah hikmat dunia , bukan hikmat Allah ( band. 1 Korintus 1 : 20 ) . Bagaimana mungkin manusia yang tidak berusaha apa-apa mendapatkan keselamatan secara cuma-cuma ? Ini tidak logis kalau dipandang dari sisi pandang dunia . Berdasarkan cara berpikir seperti itu pula , ada orang yang mengatakan bahwa pandangan monergisme menghilangkan tanggung-jawab manusia ! Penilaian seperti itu salah besar ! Jikalau tanggung-jawab manusia pada pandangan synergisme terletak pada hal yang imperatif (bentuk suruhan) , tanggung jawab manusia pada pandangan monergisme terletak pada hal yang indikatif (bentuk berita ) yaitu "merespon berita salib itu dengan iman yang sungguh-sungguh ." .
Rasul Paulus sendiri menggambarkan bahwa kalau kita mengharapkan keselamatan dari sistem balas-jasa , justru kita tidak mendapatkan keselamatan itu ( bukan kehilangan , tetapi memang tidak memperolehnya ) . Hal itu dijelaskan olehnya dalam 1 Korintus 9 , di mana dia berbicara mengenai hak sebagai penginjil , misalnya hak makan dan minum ; hak membawa isteri atau keluarga ; hak atas upah menginjil ; di mana dia sebenarnya punya hak untuk semuanya itu . Tetapi dia tidak mempergunakan haknya itu . Sekalipun demikian , ia tidak sembarangan saja menginjil , tidak sembarangan berlari , tidak sembarangan bertinju . Ia melatih dirinya supaya tidak mempermasalahkan hak-haknya itu .
"Tetapi akau melatih tubuhku dan menguasainya , supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri di tolak ." ( 1 Korintus 9 : 27 Terjemahan LAI 2002 )
Dalam teks di atas, kata "tubuh" menggunakan kata Yunani "soma" , dan bukan "sarkos " ! Ini berarti yang dibicarakan Paulus bukan masalah etika, moral dan peri-laku , melainkan masalah kebutuhan jasmani , yaitu haknya sebagai manusia penginjil . ( band. 1 Korintus 9 : 1 - 26 sebagai konsteknya ) . Jadi teks di atas tidak dapat dijadikan dasar pembenaran bahwa keselamatan kita bisa batal . Jikalau dianggap demikian , teks tersebut akan berbenturan langsung dengan ucapan Yesus pada Yohanes 10 : 27 - 28 , di mana dikatakan bahwa keselamatan kita adalah pasti ! Yang dibicarakan rasul Paulus adalah hak-jasmaninya sebagai penginjil . Sebab jika hak-haknya itu dipermasalahkan, itu berarti ia meminta balas jasa dari penginjilannya . Ia sadar bahwa apa yang dilakukannya itu , dengan tidak meminta balas-jasa atas penginjilannya, tidaklah berkontribusi pada karya penyelamatan Kristus . Hal itu tidak sesuai dengan ucapannya sendiri pada 1 Korintus 6 : 20 , bahwa kita semua , termasuk rasul Paulus, sudah dibeli dan harganya sudah lunas dibayar !
Dengan iman yang sungguh-sungguh , keselamatan yang kita terima dari Allah tersebut ( bukan dari usaha kita , bukan dari kebaikan kita , bukan dari pelayanan kita dan bukan dari penginjilan kita ) tidak mungkin bisa hilang ! Saya menggunakan kata "sungguh-sungguh" , karena kalau tidak memenuhi unsur "sungguh-sungguh" , yang terjadi adalah kemurtadan sebagaimana yang dimaksud dalam 1 Yohanes 2 : 19 . Namun esensinya terletak mutlak pada kenyataan bahwa keselamatan kita itu ada di tangan Tuhan ! Lalu manusia mana dan siapa yang mampu dan punya kuasa melebihi kuasa Tuhan , sehingga sanggup merebut keselamatan itu dari tanganNya ?
Konklusi :
Kata monergisme berasal dari akar kata Yunani monos = satu atau saja, dan ergon = pekerjaan ; dalam arti bahwa Allah bekerja sendiri tanpa kerja-sama dengan manusia dalam karya penyelamatan ! Apakah kita tidak mempercayai bahwa Allah sanggup bekerja sendiri untuk menyelamatkan kita ? Ya ! Itu terbukti di kayu salib ! Saudara dan saya tidak punya andil apa-apa di sana ! Ketika pekerjaannya sudah selesai , saudara tidak dapat menambahi pekerjaan yang sudah selesai dan sempurna ! Jikalau kita menambahi , terus terang kita menghina Tuhan Yesus, seakan-akan pekerjaanNya belum selesai dan belum sempurna ! Pertanyaan yang harus di jawab adalah : Apakah keselamatan itu merupakan kehendak Allah ataukah kehendak manusia ? Pertanyaan kedua : " Apakah karya keselamatan yang dikerjakan Yesus itu merupakan kehendak bersama dari Allah dan manusia ?"
" Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah .... dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya . " ( Yesaya 53 : 10 Terjemahan LAI 1987 )
" Dan karena kehendakNya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus ." ( Ibrani 10 : 10 Terjemahan LAI 1987 )
" Sebab inilah kehandak Bapaku , yaitu supaya setiap orang yang melihat Anak dan yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman ." ( Yohanes 6 : 40 Terjemahan LAI 1987 )
Mari kita cermati baik-baik , bahwa dari teks Alkitab di atas , nyata bahwa karya keselamatan adalah kehendak Allah yang dari dahulu sudah dirancang dan dinubuatkan bahwa melalui Kristuslah karya keselamatan akan dikerjakan . Ia sama sekali tidak pernah berunding dengan manusia mengenai bagaimana karya keselamatan itu harus dilaksanakan . Ia merencanakan sendiri dan Ia mengerjakannya sendiri . Sebab keselamatan yang dikerjakanNya itu adalah kehendakNya sendiri , bukan kehendak manusia ! Bukan berarti manusia tidak berkehendak untuk selamat , bukan ! Manusia juga berkehendak untuk selamat tetapi tidak tahu harus bagaimana ? Jadi manusia mencari sendiri keselamatan itu dengan usahanya ; ada yang bertapa menjauhi dunia , ada yang hidup sesaleh mungkin , ada yang beraskese ( bertarak birahi ) , ada yang menjaga kesucian pikirannya, perkataan dan perbuatannya , dan sebagainya , yang merupakan usaha manusia untuk bisa menyelamatkan diri . Dalam perspektif keselamatan yang dikerjakan oleh Allah , mutlak itu adalah kehendakNya sendiri, bukan kehendak manusia yang tidak tahu harus bagaimana itu .
" Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang , tetapi kepada belas kasihan Allah ." ( Roma 9 : 16 Terjemahan LAI 2002 ).
"Tetapi ketika nyata kemurahan Allah , Juruselamat kita, dan kasihNya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita , bukan karena perbuatan benar yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmatNya melalui permandian kelahiran kembali dan pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh kudus , yang sudah dilimpahkanNya kepada kita melalui Yesus Kristus, Juruselamat kita , supaya kita , sebagai orang yang dibenarkan karena anugerahnya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai pengharapan kita ." ( Titus 3 : 4 - 7 Terjemahan LAI 2002)
Kita dibenarkan oleh anugerahnya , dan bukan dibenarkan karena perbuatan kita yang baik yang sudah kita kerjakan ! Bahwa kita dibenarkan , itu adalah kehendakNya , dan tidak tergantung pada kehendak manusia atau usaha manusia . Jadi jelas tidak ada kerja-sama antara kehendak Allah dengan kehendak manusia . Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai kehendak untuk keselamatan , bukan ! Sejak dahulu kala, manusia mempunyai kehendak untuk keselamatannya, sehingga berusaha mencari jalan untuk keselamatan dirinya , namun tidak tahu harus bagaimana ? Karena itulah , Tuhan berinisiatif sendiri lewat kehendakNya untuk menyelamatkan manusia dengan caraNya sendiri , yang ternyata sangat jauh dari cara-cara yang menurut kehendak manusia . Manusia berkehendak memperoleh keselamatan itu dengan sistem meritokrasi , yakni sistem balas jasa . Sedangkan Tuhan berkehendak menyelamatkan kita dengan sistem kasih-karunia , keselamatan yang cuma-cuma ! Mengapa bertolak belakang ? Karena seluruh jasa manusia tidak cukup untuk membayar harga keselamatan yang sangat mahal itu . Sesuatu yang tidak sanggup kita beli , hanya dapat kita terima kalau sesuatu itu berupa pemberian , anugerah ! Inipun logika berpikir yang sederhana .
Oleh karena keselamatan merupakan karya dan kehendak Allah sendiri , sama-sekali tidak dicampurkan dengan usaha manusia , maka siapakah manusia yang sanggup membatalkan karya Allah tersebut ? Memang sangat logis kalau kita mengerjakan keselamatan berdasarkan kemampuan kita ( yang sebetulnya tidak mampu ) , keselamatan bisa hilang ! Bahkan menurut saya memang pasti gagal . Akan tetapi, jika yang mengerjakan adalah Tuhan , bukan diri kita sendiri , dan bukan juga hasil kerja-sama dengan kita , siapakah yang sanggup membatalkannya ? Siapakah yang sanggup merebut keselamatan itu dari tangan Tuhan ( bukan dari tangan kita ) sehingga keselamatan kita batal ?
"Domba-dombaKu mendengar suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengenal Aku dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu." ( Yohanes 10 : 27 - 28 Terjemahan LAI 2002 )
Tuhan berkehendak menyelamatkan manusia ! Berbeda dengan pandangan sinergisme di mana karya salib yang sempurna harus ditambahi atau dilengkapi dengan etika dan moral manusia , maka pada pandangan monergisme , karya salib yang sempurna direspon oleh manusia dengan iman , bahwa hanya oleh darah Yesus , manusia beroleh keselamatan , dan tidak ditambahi apa-apa lagi . Dan Yesus berjanji , seperti teks di atas , bahwa keselamatan kita adalah pasti , dan tidak ada seorangpun yang dapat merebutnya , bukan dari tangan kita , tetapi dari tanganNya ! ( perhatikan anak kalimat " pasti tidak akan binasa " pada teks di atas ) Sebab kalau keselamatan itu ada di tangan kita berdasarkan usaha kita , sudah barang-tentu tidak ada yang menjamin kelangsungannya . Akan tetapi jika keselamatan itu berada di tangan Tuhan , sudah barang tentu terjamin kelangsungannya , karena tidak ada manusia yang dapat merebut sesuatu dari tanganNya .
" Beginilah firman TUHAN , Penebusmu , yang membentuk engkau sejak dari kandungan ; Akulah TUHAN yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit , yang menghamparkan bumi - siapakah yang mendampingi Aku ?" ( Yesaya 44 : 24 Terjemahan LAI 1987 )
Teks di atas ini adalah pernyataan Allah , bahwa segala sesuatu Dia yang mengerjakan seorang diri , tanpa kita ikut membantu , termasuk keselamatan kita ! Bahwa itu adalah kehendakNya sendiri , dalam arti kehendakNya yang spesifik , yakni melalui darah Kristus .Jadi , kehendak Tuhan untuk menyelamatkan kita lewat darah Yesus itu, benar-benar bukan lahir dari usaha atau kehendak kita ! Jangankan kita yang tidak hidup di zaman Tuhan Yesus dan para rasul ; orang Yahudi yang hidup di zaman itu juga tidak memiliki pemikiran bahwa penyelamatan akan datang lewat darah Yesus . Mengapa ? Karena mereka terbelenggu oleh kehendak sendiri , dengan mencari keselamatan lewat ketaatan pada hukum Torat .
Kita lihat bahwa pandangan monergisme ini bertolak belakang dengan pandangan sinergisme ! Pandangan sinergisme sangat logis dan masuk akal jikalau dilihat dari perspektif sistem meritokrasi , di mana harus ada usaha baru ada balas jasa . Sementara itu pandangan monergisme , sangat tidak masuk akal dan tidak logis , karena kita manusia hanya menerima saja tanpa usaha , dan pemberian itu sifatnya cuma-cuma, bukan karena sebagai balas-jasa . Namun saudara harus mengerti bahwa ajaran soteria (keselamatan) Kekristenan memang tidak masuk akal karena berbeda dengan ajaran di luar Kekristenan . Akan tetapi , bahwa keselamatan Kristiani itu tidak masuk akal , telah dicatat dalam Alkitab , seperti teks di bawah ini :
" Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa , tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah . Karena ada tertulis :" Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan ." ( 1 Korintus 1 : 18 - 19 Terjemahan LAI 2002 )
Teks di atas bermakna bahwa berita keselamatan lewat karya salib Kristus itu , tidak masuk akal ! Mereka yang tidak percaya menjadi tidak mengerti dan bodoh , bukan karena mereka bodoh , melainkan karena hikmat mereka adalah hikmat dunia , bukan hikmat Allah ( band. 1 Korintus 1 : 20 ) . Bagaimana mungkin manusia yang tidak berusaha apa-apa mendapatkan keselamatan secara cuma-cuma ? Ini tidak logis kalau dipandang dari sisi pandang dunia . Berdasarkan cara berpikir seperti itu pula , ada orang yang mengatakan bahwa pandangan monergisme menghilangkan tanggung-jawab manusia ! Penilaian seperti itu salah besar ! Jikalau tanggung-jawab manusia pada pandangan synergisme terletak pada hal yang imperatif (bentuk suruhan) , tanggung jawab manusia pada pandangan monergisme terletak pada hal yang indikatif (bentuk berita ) yaitu "merespon berita salib itu dengan iman yang sungguh-sungguh ." .
Rasul Paulus sendiri menggambarkan bahwa kalau kita mengharapkan keselamatan dari sistem balas-jasa , justru kita tidak mendapatkan keselamatan itu ( bukan kehilangan , tetapi memang tidak memperolehnya ) . Hal itu dijelaskan olehnya dalam 1 Korintus 9 , di mana dia berbicara mengenai hak sebagai penginjil , misalnya hak makan dan minum ; hak membawa isteri atau keluarga ; hak atas upah menginjil ; di mana dia sebenarnya punya hak untuk semuanya itu . Tetapi dia tidak mempergunakan haknya itu . Sekalipun demikian , ia tidak sembarangan saja menginjil , tidak sembarangan berlari , tidak sembarangan bertinju . Ia melatih dirinya supaya tidak mempermasalahkan hak-haknya itu .
"Tetapi akau melatih tubuhku dan menguasainya , supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri di tolak ." ( 1 Korintus 9 : 27 Terjemahan LAI 2002 )
Dalam teks di atas, kata "tubuh" menggunakan kata Yunani "soma" , dan bukan "sarkos " ! Ini berarti yang dibicarakan Paulus bukan masalah etika, moral dan peri-laku , melainkan masalah kebutuhan jasmani , yaitu haknya sebagai manusia penginjil . ( band. 1 Korintus 9 : 1 - 26 sebagai konsteknya ) . Jadi teks di atas tidak dapat dijadikan dasar pembenaran bahwa keselamatan kita bisa batal . Jikalau dianggap demikian , teks tersebut akan berbenturan langsung dengan ucapan Yesus pada Yohanes 10 : 27 - 28 , di mana dikatakan bahwa keselamatan kita adalah pasti ! Yang dibicarakan rasul Paulus adalah hak-jasmaninya sebagai penginjil . Sebab jika hak-haknya itu dipermasalahkan, itu berarti ia meminta balas jasa dari penginjilannya . Ia sadar bahwa apa yang dilakukannya itu , dengan tidak meminta balas-jasa atas penginjilannya, tidaklah berkontribusi pada karya penyelamatan Kristus . Hal itu tidak sesuai dengan ucapannya sendiri pada 1 Korintus 6 : 20 , bahwa kita semua , termasuk rasul Paulus, sudah dibeli dan harganya sudah lunas dibayar !
Dengan iman yang sungguh-sungguh , keselamatan yang kita terima dari Allah tersebut ( bukan dari usaha kita , bukan dari kebaikan kita , bukan dari pelayanan kita dan bukan dari penginjilan kita ) tidak mungkin bisa hilang ! Saya menggunakan kata "sungguh-sungguh" , karena kalau tidak memenuhi unsur "sungguh-sungguh" , yang terjadi adalah kemurtadan sebagaimana yang dimaksud dalam 1 Yohanes 2 : 19 . Namun esensinya terletak mutlak pada kenyataan bahwa keselamatan kita itu ada di tangan Tuhan ! Lalu manusia mana dan siapa yang mampu dan punya kuasa melebihi kuasa Tuhan , sehingga sanggup merebut keselamatan itu dari tanganNya ?
Konklusi :
Terlepas dari berbagai pandangan yang mempertentangkan kedaulatan Allah dan tanggung-jawab manusia , serta yang mempertentangkan kedaulatan Allah dengan kehendak bebas manusia , dari uraian singkat di atas nampak bahwa pandangan synergisme tidak memberi jaminan akan kelangsungan keselamatan . Jikalau tidak menjamin , pertanyaan yang pasti timbul adalah :" Apa bedanya Kekristenan dengan yang di luar Kekristenan ? Jikalau demikian , apakah kelebihan saya menjadi pengikut Kristus dan buat apa saya harus menjadi Kristen ? "
Persoalannya adalah, jika etika dan moral menjadi ukuran yang ikut menentukan keselamatan , apakah ada manusia yang tidak bersalah seumur hidupnya ? Sebab kebaikan menurut standar Allah berbeda dengan kebaikan menurut standar manusia . Kita bisa tidak melanggar hukum dunia seumur hidup kita , namun kita tidak bisa tidak melanggar hukum Tuhan seumur hidup kita . Satu saja kita abaikan , gugurlah semuanya , dan kita tetap dianggap sebagai tidak baik ( Yakobus 2 : 10 ). Mengapa begitu ? Sebab dalam hukum dunia, berpikir kotor, berangan-angan yang salah , dalam hati membenci sesama , atau bersungut-sungut , atau tidak bersyukur , tidak ada aturan yang membuat orang yang melakukannya dapat dianggap bersalah untuk menjadi terdakwa di pengadilan . Akan tetapi, hukum Tuhan sangat jauh lebih luas , di mana suasana hati kita , bathin kita , pikiran kita , angan-angan kita dan ucapan kita yang salah , menjadikan kita pelanggar hukumNya ! Ittulah yang saya maksud bahwa tidak ada seorangpun yang baik dan benar di .hadapan Allah dalam arti memenuhi standarNya.
Namun, bukankah seluruh ketidak-mampuan kita untuk menjadi baik sebagaimana standar Allah , telah dibayar lunas di kayu salib oleh Yesus ? Maka ini berarti , bahwa apa yang diusahakan dan dicari oleh pandangan synergisme yang terkait usaha manusia , bukankah sudah didapatkan lewat darah Yesus ? Mengapa harus dicari terus ? Ketika Tuhan Yesus berseru :" Eli, Eli , lama sabakhtani ?" , di situlah telah terjadi pertukaran Ilahi .( Matius 27 : 46 ). Seluruh salah kita, dosa kita, ketidak-mampuan kita untuk menjadi baik , ditanggung semuanya oleh Yesus di kayu salib ; dan pada saat yang sama hadirat Allah , kebenaran, kekudusan dan kesempurnaan Yesus berpindah kepada kita . ( band. 2 Korintus 5 : 21 ) .
Kemudian, Yesus berkata :" Tetelestai " yang artinya "sudah selesai " atau "sudah sempurna" ( Yohanes 19 : 30 ) . Jadi karya penyelamatan sudah selesai, sudah sempurna ! Bagaimana mungkin pekerjaan yang sudah selesai dan sudah sempurna , yang di lakukan bukan oleh manusia , tetapi oleh Allah sendiri , bisa batal atau gagal atau hilang ? Di sini kita gunakan logika juga , bahwa apa yang sudah dikerjakan oleh Allah tidak dapat dibatalkan oleh manusia .
"Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah , dari mulutKu telah keluar kebenaran , suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali , .. ( Yesaya 45 : 23.a Terjemahan LAI 1987 )
Teks di atas mengajarkan kita bahwa firman Tuhan itu ya dan amin adanya ! Tidak bisa batal, tidak bisa gagal dan tidak bisa tidak jadi . Jadi kalau Dia berfirman bahwa " kita pasti tidak akan binasa " dan " telah dibenarkan, telah dikuduskan dan telah disempurnakan " , maka apa yang difirmankanNya itu tidak dapat batal .( band. Roma 3 : 24 ; Ibrani 10 : 10 dan 14 ) . Siapa bilang keselamatan bisa hilang ? Tuhan Yesus memberkati kita semuanya . Salam dari laut ! ( Capt. Yordan EP Sihombing SH.M.Ap.M.Mar )
Persoalannya adalah, jika etika dan moral menjadi ukuran yang ikut menentukan keselamatan , apakah ada manusia yang tidak bersalah seumur hidupnya ? Sebab kebaikan menurut standar Allah berbeda dengan kebaikan menurut standar manusia . Kita bisa tidak melanggar hukum dunia seumur hidup kita , namun kita tidak bisa tidak melanggar hukum Tuhan seumur hidup kita . Satu saja kita abaikan , gugurlah semuanya , dan kita tetap dianggap sebagai tidak baik ( Yakobus 2 : 10 ). Mengapa begitu ? Sebab dalam hukum dunia, berpikir kotor, berangan-angan yang salah , dalam hati membenci sesama , atau bersungut-sungut , atau tidak bersyukur , tidak ada aturan yang membuat orang yang melakukannya dapat dianggap bersalah untuk menjadi terdakwa di pengadilan . Akan tetapi, hukum Tuhan sangat jauh lebih luas , di mana suasana hati kita , bathin kita , pikiran kita , angan-angan kita dan ucapan kita yang salah , menjadikan kita pelanggar hukumNya ! Ittulah yang saya maksud bahwa tidak ada seorangpun yang baik dan benar di .hadapan Allah dalam arti memenuhi standarNya.
Namun, bukankah seluruh ketidak-mampuan kita untuk menjadi baik sebagaimana standar Allah , telah dibayar lunas di kayu salib oleh Yesus ? Maka ini berarti , bahwa apa yang diusahakan dan dicari oleh pandangan synergisme yang terkait usaha manusia , bukankah sudah didapatkan lewat darah Yesus ? Mengapa harus dicari terus ? Ketika Tuhan Yesus berseru :" Eli, Eli , lama sabakhtani ?" , di situlah telah terjadi pertukaran Ilahi .( Matius 27 : 46 ). Seluruh salah kita, dosa kita, ketidak-mampuan kita untuk menjadi baik , ditanggung semuanya oleh Yesus di kayu salib ; dan pada saat yang sama hadirat Allah , kebenaran, kekudusan dan kesempurnaan Yesus berpindah kepada kita . ( band. 2 Korintus 5 : 21 ) .
Kemudian, Yesus berkata :" Tetelestai " yang artinya "sudah selesai " atau "sudah sempurna" ( Yohanes 19 : 30 ) . Jadi karya penyelamatan sudah selesai, sudah sempurna ! Bagaimana mungkin pekerjaan yang sudah selesai dan sudah sempurna , yang di lakukan bukan oleh manusia , tetapi oleh Allah sendiri , bisa batal atau gagal atau hilang ? Di sini kita gunakan logika juga , bahwa apa yang sudah dikerjakan oleh Allah tidak dapat dibatalkan oleh manusia .
"Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah , dari mulutKu telah keluar kebenaran , suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali , .. ( Yesaya 45 : 23.a Terjemahan LAI 1987 )
Teks di atas mengajarkan kita bahwa firman Tuhan itu ya dan amin adanya ! Tidak bisa batal, tidak bisa gagal dan tidak bisa tidak jadi . Jadi kalau Dia berfirman bahwa " kita pasti tidak akan binasa " dan " telah dibenarkan, telah dikuduskan dan telah disempurnakan " , maka apa yang difirmankanNya itu tidak dapat batal .( band. Roma 3 : 24 ; Ibrani 10 : 10 dan 14 ) . Siapa bilang keselamatan bisa hilang ? Tuhan Yesus memberkati kita semuanya . Salam dari laut ! ( Capt. Yordan EP Sihombing SH.M.Ap.M.Mar )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar